Friday, April 3, 2009

meet my momoholga!

* Holga135BC*


Since i failed to get first prize for Urbane Fellowship Program #2, my daddy bought me a lomo camera which is Holga 135BC *kata daddy buat pelipur lara* as he wish. Oh yeah of course, i was sad that i failed and only got First Honourable Mention, but later it feels like God said "not yet, andyan. it's not your time now".:D

I bought this holga in Bandung *and yeah I'm happy to know that it can not be found in Yogyakarta's stores..ahahahah!* the day after interview held in Urbane Office, and yeah time after that, i felt like i felt in love with those camera..hehehehe!Recently, i like spent my time, alone in somewhere, sit and take some photographs with my momoholga, just for take a contemplation, which is I really need during my superduper rushy campus activity *yang sometimes killing me!:D*

Recently I bought a colorsplash flash chakras edition with my own money. Oh andyan, please underline it. It means you can not buy any stuff again this month. Stay away from ambarukmo plaza or makanan enak pizza hut, OK?. Eh, but overall i'm happy for myself, i got new hobby called LOMOGRAPHY! yihaaa




*airplane+sky+playground*

*swing it like saturnus did*

*intergalactic*

* Syuhada Kindergarten*


*colosplash flash chakras edition *

Thursday, April 2, 2009

Continuing City Through Kampong

Melanjutkan Kota Melalui Kampung :

Kontinuitas Kultural dan Identitas dalam Pembangunan

Oleh Andyan Diwangkari-First Honourable Mention Urbane Fellowship Program #2


Kota…,

Kampung…,

Kota dan kampung…

Dua padan kata yang saling bertubrukan, dua hal yang berlainan kutub. Setidaknya itulah yang terbersit dalam benak saya ketika pada akhir tahun 2008 harus kembali menjalankan ritual hidup “nomaden” di Yogyakarta ini. Dari kawasan titik nol kilometer1), yang dianggap sebagai pusat kota Yogyakarta yang lengkap dengan hiruk pikuknya, harus berpindah tempat tinggal ke lingkungan perkampungan di pinggir kota bernama Kampung Kuncen2), tempat dimana saya pernah menghabiskan masa kecil.

Akhh…ternyata tidak seburuk yang saya bayangkan. Bayangan akan sulitnya transportasi dari tengah kota, jauh dari fasilitas kota, tidak terjamah akses internet, sepi, tidak ada event pengundang kemeriahan dan serentetan alasan bla-bla-bla yang membuat enggan berumah di lingkungan perkampungan ternyata bukan momok yang harus ditakuti dalam proses meruang dalam kampung. Sebaliknya, kampung mengagetkan saya dalam cara yang unik. Ketika melewatinya, setiap sudut, setiap pola rumah yang berjajar, setiap langkah yang terlewat menuju rumah, setiap penggal jalan dalam Kampung Kuncen ini, mampu mengingatkan dan menceritakan kembali cerita-cerita masa kecil.

Tactility Over Visuality :
Kampung Sebagai Ruang Kompak Yang Humanis

Seperti rekaman memori yang diputar kembali. Sebuah tempat dapat bercerita. Sebuah collective memory atau locus,dalam bahasa Aldo Rossi. Kampung sebagai satuan yang kompak , ternyata dapat “menyentuh” kita tidak hanya secara visual tetapi dapat pula memberi kesempatan kepada kita untuk berkenalan dengan kawasan itu secara menyeluruh, mendengar, mengingat, dan merasakan teksturnya sebagai sebuah ruang arsitektur. Sesuatu yang sangat jarang kita dapatkan pada bangunan-bangunan yang marak dibangun di kota-kota besar akhir-akhir ini, yang acap kali hanya memuaskan sisi visual dan fungsional saja. The most important factor in the aesthetics of the city is not visuality but tactility.” ( Ken-Ichi-Sasaki)

The city is the people. Inilah hakekat kota sebenarnya. Seni mendesain kota tidak lain adalah bagaimana membuat manusia mau menghuninya, dan merasa bahagia di dalamnya. Richard Florida, seorang peneliti menegaskan, “place plays a fundamental role in our endeavors to be happy”. Kita seharusnya berterima kasih kepada kampung. Kampung mampu meng-embrace berbagai lapisan penghuninya.

Gap antara si kaya dan si miskin nyaris tak terdengar di sini. Baik si kaya maupun si miskin merelakan tanahnya dipotong lalu difungsikan sebagai jalan rukunan yang menghubungkan setiap rumah. Tak jarang si kaya mempersilakan para warga lain untuk memanfaatkan sebagian luas rumahnya sebagai area yang terbuka untuk publik, seperti langgar untuk sholat tarawih ketika Ramadan tiba, atau sekedar tempat bermain anak-anak sekitar. Keberadaan balai warga juga merupakan elemen penting yang dipahami bersama. Balai warga atau apapun namanya menjadi jantung kampung, dimana warga dapat melampiaskan hasrat berdemokrasi mereka, berkreasi, berkesenian, bermasyarakat, atau bahkan hanya mengobrol ringan, menceritakan ayam Pak RT yang hilang. Proses pembangunan fisik dalam kampung pun melibatkan warganya secara demokratis. Suara masyarakat lah yang didengar. Inilah pembangunan yang humanis. Di dalam kampung, arsitektur tidak lagi dilihat sebagai barang mewah, tetapi diinterpretasikan secara bersama sebagai bagian dari proses kehidupan, arsitektur telah menyentuh sudut-sudut warganya dan memberi makna.

It’s getting cold again over here and always when it does I start thinking about how to warm up architecture, how to make it lodge around us, after all people buy clothes and shoes the right size and know when the fit feels good. It’s time we invented the built thing that fits them (Aldo Van Eyck). Dan kampung telah mampu menjawabnya.

Inilah fenomena dalam kampung yang anehnya memancing kegelisahan saya akhir-akhir ini. Ya! Dalam hirupan udara segar pagi di kampung tempat tinggal saat ini, dalam sapaan ramah tetangga yang hendak berangkat ke pasar saat saya mulai membuka pintu rumah, dalam gelak tawa anak-anak kecil yang asyik mengejar layang-layang putus di halaman rumah saya, dalam setiap obrolan ringan kreatif anak-anak muda di bawah pohon di tepian gang, acap terbersit gelisah. Gelisah, membayangkan hal-hal manusiawi tersebut bertahan tidak lama lagi, tergerus arus pembangunan kota yang pesat, didominasi bangunan-bangunan tinggi komersial atas dasar permintaan market, yang angkuh yang kurang memberi makna sebenarnya dalam proses meruang manusia di dalamnya. Gelisah, membayangkan posisi kampung sebagai human settlement yang mandiri dalam kota tergeser oleh hadirnya apartemen-apartemen menjulang yang berkiblat pada pembangunan kota ala Jakarta. Gelisah, membayangkan kota Yogyakarta menjelma menjadi rintisan kota Jakarta yang hiruk pikuk membangun tapi tidak memberikan konstribusi pada esensi kota sebenarnya yaitu manusia. Sebagai bukti adalah tidak adanya rasio yang seimbang antara jumlah bangunan tinggi yang ada dengan jumlah public spaces yang ditawarkan sebagai tempat proses berdemokrasi dan berkreasi warganya. Berbicara tentang kota juga berbicara tentang manusia, mungkin inilah yang acap kali dilupakan oleh pembangunan kota yang setipe dengan Jakarta.

Kampung As Identity
and Unique Feature in City

Kota Yogyakarta merupakan cikal bakal kota Mataram Islam pada masanya. Kota ini dibentuk dengan dasar sistem pemusatan yang berkiblat pada pendekatan perancangan Theosentris. Di mana unsur kerajaan dan agama menjadi begitu sentral dalam perkembangan kota. Inilah yang menjadikannya sebagai kota tradisional. Pusat kota terdiri dari elemen utama 1) keraton sebagai pusat pemerintahan, 2) masjid sebagai sentral fungsi peribadatan, 3) pasar sebagai penggerak sektor ekonomi, dan 4) alun-alun sebagai wadah berdemokrasi dan berkesenian rakyatnya. Sebuah perancangan yang kompak, menempatkan dengan benar dan bersahaja tiap-tiap motor penggerak kotanya.

Lalu dimana letak permukiman rakyatnya? Permukiman tumbuh berkembang secara bertahap mengelilingi pusat kotanya. Inilah cikal bakal kampung di kota ini. Setiap kelompok permukiman mempunyai ciri khas tersendiri yang kemudian biasanya menjadi dasar terbentuknya dan penamaan kampungnya pula. Misal, Kampung Kauman, diberi nama demikian karena Kauman berarti Kaum, sehingga dapat diinterpretasikan bahwa kampung ini adalah kampung para kaum atau ulama yang tinggal berdekatan dengan Masjid Gedhe. Contoh lain lagi, Kampung Gamelan. Gamelan berasal dari kata Gamel yaitu alat musik tradisional Jawa. Nama Gamelan diberikan kepada kampung tersebut dengan dasar bahwa mayoritas penghuninya menggeluti profesi sebagai penabuh gamel.

Perluasan kota hari ini yang eksplosif, proses integrasi secara politis, ekonomis, dan administratif, juga proses heterogenisasi struktur sosial kampung dengan banyaknya jumlah pendatang, sebenarnya berhadapan dengan apa yang Jo Santoso sebut sebagai “kekenyalan teritorial kampung” ditilik dari cakupan ruang kota. Kampung hari ini, tetap merupakan bagian vital dari kota. Kampung hari ini umumnya masih bisa mempertahankan value wilayah mereka. Satuan kampung sekarang menjadi kuarter urban yang heterogen, baik secara demografis maupun ekonomis. Bentuk organisasi sosial dan cara hidup dalam kampung juga disesuaikan dengan perubahan kondisi kota, dimana arus urbanisasi makin marak. Dalam proses penyesuaian ini, norma tradisional dalam kampung ternyata masih bisa bertahan. Dengan demikian, kampung memberikan keunikan warna dan identitas tersendiri bagi kota, baik secara fisik maupun non fisik. Keberadaan kampung yang vital ini sepantasnya diperhitungkan dalam pengembangan urbanitas.

Kampung Oriented Development :
Kontinuitas Kultural dalam Kehidupan Ber-kota

Imagining Yogyakarta, terkait dengan era globalisasi, dihadapkan dengan pertanyaan mendasar, pembangunan macam apakah yang cocok untuk kota ini? Apakah kota ini akan bersolek dengan pembangunan fisik yang extravaganza dalam pemenuhan kebutuhan modernitasnya, dan sudah siapkah Yogyakarta dalam hal ini?

Dalam kehidupan ber-urban, masyarakat kota membutuhkan adanya kontinuitas antara masa kini dan masa lalu. Harus ada semacam benang merah dalam pembangunan kotanya sebagai tempat berorientasi penghuninya, apalagi jika yang diperbincangkan adalah kota Yogyakarta, sebuah kota tradisional yang sarat dengan kekayaan sejarahnya. Dalam bukunya, Jo Santoso (Menyiasati Kota Tanpa Warga) menyebutkan bahwa arsitek kolonial seperti Thomas Karsten dan teman-teman seperjuangannya telah gagal mentransformasi bentuk kota tradisional-kolonial menjadi kota tropis yang modern. Hasil karya mereka, yang mayoritas permukiman kolonial telah digilas oleh bangunan-bangunan angkuh karya developer yang kurang paham akan esensi kota.

Selama pembangunan kota modern hanya diaplikasikan dengan maraknya pembangunan fisik bangunan megah nan mengumbar visualitasnya, tetapi tidak diiringi oleh legalitas yang melindungi ruang kota dari keserakahan bangunan-bangunan tersebut, serta kesadaran yang cukup bahwa pembangunan kota modern tidak hanya berbicara tentang kualitas perkonomian, tetapi juga kualitas human settlement, maka pembangunan tersebut masih gagal mencapai esensi terdasar kota yaitu kualitas hidup warganya. Fenomena inilah yang sedang terjadi pada kota Jakarta, kota yang unsustainable, menurut Ridwan Kamil. Jika Yogyakarta tidak berhati-hati merencanakan pengembangannya dan memilih “bersolek” mempercantik tampilan luar kotanya, maka tidak mustahil jika di kemudian hari Yogyakarta menjelma menjadi Jakarta. Aduh!,amit-amit.

Lalu pembangunan seperti apa yang perlu dikembangkan? Kiranya, modernisasi kota dengan berbasis pada tipologi kampung (sebagai quarter) merupakan alternatif yang layak diperhitungkan dalam pembangunan kota Yogyakarta di saat ini.Ya! Sudah saatnya Yogyakarta memanfaatkan warisan leluhurnya sendiri. Kota Yogyakarta telah dianugerahi bentuk arsitektur kampung dalam kota yang merupakan integrated area mencakup fungsi hunian, tempat bekerja, dan bersosialisasi. Analoginya, kampung seperti superblok yang vernakular, walaupun dalam bentuk jejeran rumah yang sederhana tetapi memiliki fungsi mixed-uses, sebuah area yang mandiri.

Richard Rogers dan Anne Power dalam buku Cities for a Small Country merumuskan langkah awal untuk meningkatkan kualitas blok (=kampung dianalogikan sebagai blok) dalam kota adalah:

1) plan of action based on existing communities and clusters of activity
kualitas dalam kampung dapat ditingkatkan dengan menghidupkan kembali aktivitas warga di dalamnya. Misal memberdayakan warga untuk bersama-sama mendirikan sentra kerajinan gerabah sesuai potensi yang dimiliki untuk menggiatkan sektor ekonomi dalam kampung. Mendengarkan suara warga adalah bagian dari proses pembangunan yang humanis.

2) build intensively on core of neighbourhood vitality
membangun atau meningkatkan kualitas infrastruktur kampung seperti sekolah dilengkapi fasilitas internet, tempat beribadah, ataupun pasar sebagai pusat perdagangan.Tidak harus dalam bentuk bangunan yang modern, tetapi mampu menjawab tuntutan globalisasi.

3) create a secure, cared for environment
lingkungan yang aman, terkontrol, dan jauh dari kriminalitas menciptakan kualitas human settlement yang lebih baik.

Kita perlu berterima kasih kepada Romo Mangun yang telah meninggalkan contoh revitalisasi Kampung Code Gondolayu yang baik. Penataan kawasan tersebut dari yang semula kumuh menjadi kawasan yang tertata apik, lengkap dengan pembangunan bangunan serbaguna sebagai community centre yang berfungsi untuk ruang pertemuan warga, ruang belajar, dan perpustakaan. Selain itu disediakan pula ruang terbuka sebagai community space untuk area bermain anak-anak dan sosialisasi antar penduduk. Pembangunan fisik ini telah terbukti dapat memodernisasi dan meningkatkan kualitas kampung Code Gondolayu menuju lingkungan hunian yang livable.

Setelah kampung dalam kota menjelma menjadi human settlement yang telah diperbaharui dan semakin mantap dalam kemandiriannya, selanjutnya urban desain bergerak menyatukan tiap-tiap kampung dalam kota dengan infrastruktur jalan dan sarana transportasi yang baik. Linkage ini diperlukan karena pada dasarnya kota bukanlah penjumlahan matematis dari satuan permukiman daerah satuan-satuan permukiman, perkembangan kampung per kampung kemudian harus diintegrasikan dalam sebuah konsep pengembangan kota yang menyeluruh, termasuk infrastruktur yang sifatnya lebih meng-kota seperti rumah sakit, perguruan tinggi, alun-alun kota dan sebagainya. Pembangunan kota macam ini memberikan kontribusi dalam pembentukan kota modern tanpa kehilangan karakter kampung sebagai bagian dari identitas kota. Menciptakan kontinuitas kultural dalam kehidupan ber-urban karena hakekatnya “every city is rooted in a regional culture” (Richard Rogers).

Build It With Conserve It :

Antara Yogyakarta dan Dublin

Dalam survey yang diadakan BBC tahun 2003, Dublin tercatat sebagai “the best capital city in Europe to live in”. Di tahun 2007, Dublin dipredikati “the friendliest city in Europe” oleh para worldwide travellers dalam survey yang dilakukan TripAdvisor Company. Mengapa bisa menjadi demikian?

Sama halnya dengan kota Yogyakarta, Dublin bercirikan kota tradisional yang memiliki sejarah berbentuk kota kerajaan. Jika Yogyakarta memiliki tempat-tempat bersejarah seperti Keraton Kasultanan, maka kota Dublin dipenuhi dengan kastil-kastil dan bangunan tua khas Eropa bukti kejayaan kerajaan Irlandia di masanya. Alun-alun kota sebagai wadah kegiatan rakyat, juga dimiliki oleh kedua kota ini. Lalu apalagi? Ternyata kota Dublin juga terbentuk dari quarter-quarter. Sebut saja Temple Bar Area di selatan River Liffey, yang merupakan pusat nightlife dan jujugan para turis mengingatkan kita pada Kampung Prawirotaman di Yogyakarta yang juga merupakan jantung kegiatan para wisatawan asing di kota ini. Fakta lainnya, Dublin adalah pusat pendidikan di Irlandia, sama halnya Yogyakarta yang masih dipredikati Kota Pelajar hingga hari ini. Dengan kata lain, Dublin dan Yogyakarta harus siap membuka pintu bagi pendatang yang mendadak jadi penghuni tetap demi meneruskan pendidikan mereka di kedua kota ini. Ahhh, begitu banyak persamaan antara kedua kota ini.

Dublin hari ini adalah Dublin yang melanjutkan wajahnya. Alih-alih dibangun dengan pesat seperti kota-kota di Eropa yang sedang berlomba membangun dan bersolek, kota Dublin sengaja diberikan ruang untuk tumbuh dengan wajahnya yang menua. Usang tetapi bersejarah. Menyimpan sejuta makna dan memori, memberi kesempatan warganya untuk mengapresiasinya. Ini sejalan dengan visi sang walikota bahwa Dublin tidak akan menjelma menjadi New York yang memiliki Empire State atau Malaysia yang molek dengan Menara Kembar Petronasnya. Dublin tidak akan membangun yang seperti itu.

Dublin hari ini adalah Dublin yang tidak membangun. Bukan tidak mampu, hanya tidak mau. Tetapi, jangan disalah tafsirkan bahwa benar-benar tidak ada pembangunan fisik yang berarti di Dublin. Tetap ada, hanya berhati-hati dalam menjaga proporsinya. Dalam urban authoritynya, Dublin menganggarkan satu wilayah kotanya yaitu Dublin Docklands, sebagai sentra pembangunan modernnya, seperti U2 Tower, Grand Canal Square ( Martha Schwartz), Grand Canal Theatre (Libeskind). Catatan penting di sini adalah proporsi luasan development area Dublin Docklands berbanding luasan seluruh Dublin, dimana area yang dibangun jauh lebih kecil dari luasan Dublin yang tetap dipertahankan keasliannya. Hasilnya? Kota Dublin malah tumbuh menjadi kota yang unik dengan identitasnya dan “dibetahi” manusianya, tidak hanya bagi penghuni asli tetapi juga pendatang yang menuntut pendidikan di Dublin, maupun bagi wisatawan asingnya. Kota modern, livable, tetapi tidak kehilangan root-nya.

This does not mean that we cannot plan, just that we need to do it more carefully.” (Richard Rogers). Inilah yang perlu dipegang oleh kota Yogyakarta. Kita tidak boleh terjebak pada keinginan membangun kota secara extravaganza, tetapi malah mengabaikan kontinuitas kultural dan identitas kota yang dimiliki. Pilihan melanjutkan kota melalui kampung diharapkan dapat menciptakan kehidupan ber-kota yang maju, tetapi humanis dan berkepribadian.

* * * *

Footnotes:

1) daerah pusat kota, sekitar perempatan Kantor Pos Besar, Gondomanan,Yogyakakarta

2) kuncen = juru kunci, disebut demikian karena dahulu profesi yang terkenal di kampung ini adalah juru kunci pemakaman dengan area pemakaman yang luas.

Daftar Pustaka :

• Rogers, Richards & Anne Power (2000) : Cities For a Small Country, University Pres, Cambridge.

Florida, Richard : Who’s Your City

• Santoso, Jo : Menyiasati Kota Tanpa Warga

• Rossi, Aldo (1986) : The Architecture of The City

• Kusumawijaya, Marco. (2006) : Kota rumah Kita, Borneo Publishing, Jakarta.

• Ken-Ichi-Sasaki : For Whom is City Design : Tactility Versus Visuality

• Kamil, Ridwan : The Unsustainable Jakarta, http://www.ridwankamil.wordpress.com/

• Kamil, Ridwan : Superblok Sebagai Model Kendali Pembangunan Kota, http://www.ridwankamil.wordpress.com/

• Setyawan, Wahyu : Berterimakasih Kepada Kampung, http://www.putumahendra.com

http://en.wikipedia.org/wiki/Dublin

http://www.dublindocklands.ie

Friday, March 13, 2009

FRAMING the TOWNSHIP



Hello, everybody!:D

uh..ahh lazy afternoon in this campus library..accompanied with FuturArc magazine in the left..suddenly i remember about the competition entry (FuturArc prize 2009) that has not been shared in this blog before. I did this conpetition along with Alyas Abibawa in the middle of our semester exam.

Ok here we go!

[1]

The big question before we started to develop an office and water park in a huge site which is about 135 ha, located within a neighborhood of middle to middle-up class housing development, has a specific orientation to future highway, and has uniquely relationship between the complex Township (including school and commercial area development), and a 6.5 Ha botanical garden surround it, is how to set the building and buildings even other elements surround its site, and how to divide a huge site into different purposes.

We started this design process by divided our site into three functions. As can be seen in our site plan, first one, is set a parking area in the edge of site, which the circulation spine is designed to minimize the traffic of the proposed highway. Thus, we proposed the car road circulation to enter the Puri Botanical Township first, before it moving forward to the outdoor car parking. The second is we designed a 9,200 meters square office located in the very middle of the proposed site and enhance into two main direction. The view facing the landscaped park, while the other enjoys the outdoor car park. The third part and the biggest is the (water) park, which covered the area for about 25,000 meters square are divided to accommodate three main functions : recreation, education, and sport. We place the education area near the office area, recreation area in the middle, and the exercise area facing the proposed commercial development.

As a future public space, the park will feature such as an urban plaza which is flexible to accommodate any kind of events all year round. To ensure the quality of life for our entire family, the park will feature a child’s backyard garden which include sand-box and hills cape to enhance child’s playing desire. A Landscaped Lakeview terrace could be used as outdoor wedding chapel ceremony. This park also include a medium density forest as a noise barrier when the proposed highway is completed, the forest strive to represent the nature. Trying to make a linkage to every elements in the park, this park provide a wide pedestrian space act as a linkage between two meeting point at the corner of entire site. And as the main feature which is water park this park create a huge water feature act not only as a recreative place, but also as rainwater treatment.

[2]
How about the idea of office building design? Instead of segregating the entire complex against the future highway, we proposed a gate-like office building to enhance the direct view between road and the township. We proposed a “landmark” office that strive to frame the township, so we can still give our respect to the township. The office building of the master plan will be designed to allow the maximum flexibility and efficiency in each floor plate and associated building systems. Seen from the ring road, a huge plaza adjacent between two building and covered with fourth level floor plate become a main figure and act as wind tunnel. Office building and the water-wall become a new beacon for the township and could be seen at any direction.

This “gated” office create the porous that become a key design aspect and permit the wind to enter. Wind is a powerful force that has been used for centuries for pumping water and assisting in the manufacturing of goods. It is possible to design an office to contain wind-driven turbines and it is possible to design these buildings in an orientation that will gather or harvest the wind and funnel its force into wind farms that will generate enormous power.

[3]
And looking forward into another scheme, we create a huge plaza adjacent between two building as a place for gather and interact each other. In the end, we hope our design can generate a better urban planning that might can make the city works.

* * *

that's all folks

don't forget to click the images to see it in bigger size :D

Thursday, March 5, 2009

VISUALLY VERIFIED MONTAGES

Perkembangan dunia arsitektur dijital merambah pula pada peralatan ataupun metode dengan teknik komputerisasi yang mempermudah analisa, rekayasa, maupun presentasi desain terhadap klien. Banyak depelopment projects, sekarang ini, terutama projek yang memiliki skala yang besar ataupun ketinggian yang relative tinggi (mid rise till high rise) memberikan dampak yang cukup besar pada visual lingkungan sekitar. Dengan alasan inilah, pihak planning authorities acapkali mensyaratkan dampak visual akibat pengembangan baru dimodelisasikan atau dipresentasikan menggunakan kombinasi antara dokumentasi visual lingkungan sekitar (tentu saja dengan survey lingkungan sekitar yang akurat), dengan visual desain yang ingin dikembangkan pada lingkungan tersebut yang kemudian dikenal dengan metode Visually Verified Montages. Sebuah konsultan arsitektur yang berbasir di London yaitu M3 Architects.



Metodologi VVM (*secara singkat)
1. manifestasi data existing
(pengumpulan data existing)- existing CADspase
2. memplot desain dalam format 2 dimensi
3. memproyeksikan proporsi desain thd lingkungan existing metode line in the sky
4. menggolah material dan efek iluminasi desain, menyesuaikan existing lingkungan
5. melengkapi suasana ( elemen pohon,kendaraan, manusia) dengan menggunakan potoshop


Kemampuan menggunakan metode VVM diaplikasikan untuk memenuhi tuntutan bahwa "good architect would be able draw the visual impact of their desain onto existing surrounding", seorang arsitek harus mampu mempertanggungjawabkan dampak desainnya terhadap lingkungan sekitarnya.

sources:

1. http://www.m3architects.com/ (official site M3 Architects)
2.http://www.warnerlandsurveys.net/index.php?option=com_content&view=article&id=111&Itemid=59
3. http://passion4architecture.wordpress.com/2006/01/09/visually-verified-montages/

Monday, February 23, 2009

Reinventing Digital Architecture

Hello everybody,

hahahaha, cm postingan singkat hasil diskusi bareng temen2 di kuliah arsitektur dijital

manfaat arsitektur dijital?
ada dikotomi dalam hal manfaat arsitektur dijital menurut kami yaitu:
1. manfaat inovasi
manfaat INOVASI:
- Arsitektur dijital sebagi "PLATFORM TERUKUR" dalam proses disain, sehingga setiap
tahapan mendisain dalam output/form apapun tetap dapat di tentukan nilai numeriknya.
- Arsitektur dijital sebagai "ALAT PEMANCING"kreativitas arsitek dalam mengolah bentuk
dan ruang.
- Arsietektur dijital sebagai sarana simulasi disain (dari segi performasi disain, ruang dan
kaitannya dengan lingkungan terbangun)

2. manfaat teknik komunikasi

- Arsitektur dijital sebagai sarana presentasi antara kebutuhan klien dan kemampuan
arsitek dalam mendisain.
- Arsitektur dijital sebagai alat presentasi yang terukur antara ide-ide dasar arsitek dan
bentuk ruang/disain yang di hasilkan dalam transformasi.

akhh, tapi saya sebenarnya kenal benar dengan arsitektur dijital...

Tuesday, September 30, 2008

landmark jayapura competition




*missing..page 2&5 .hukhuk:(*

team : donatus windya gurnito, ST (leader)
alyas abibawa widita
andyan diwangkari

PS: just click the image to see the larger one and yeah..it's big enough so you can read our design explanation.

---KL---Singapore---summer trip story!:)

*huhuhuhu..i love journey*

*at toy museum-play-play-play*


*amazing changi*

*KL central*

*tired-KL tower*


*public housing-HDB*

*romantic top view-henderson waves*

*friends*

Monday, August 18, 2008

competition this august!

*rumah babarsari errrr karena d babarsari*

this weekend, after took a long long journey from jogja - solo - kuala lumpur - singapore - batam - jakarta - bandung - jogja only for 5 days, my bf and I had already finished our competition entry for "grahacipta hadiprana sayembara desain". We are asked to design "rumah etnik kontemporer". Oh yeah, even i got an influenza -- dan yeah bener2 menyiksa huk huk sentruuupp sentruuuuppp hatching :( ---, fortunately our work has been finished before the deadline. Horay, thank you, boy!



"...Bentuk rumah merupakan transformasi dari prinsip-prinsip rumah tradisional. Ruang lantai yang dinaikkan dari permukaan tanah merupakan upaya agar kualitas lingkungan serapan air tetap terjaga. Konsekuensinya, suhu di dalam rumah menjadi lebih sejuk dengan keberadaan void di bawah lantai terbawah hunian..."

"...Rancangan bentuk rumah menjadi mencoba mewakili ciri umum rancangan rumah tradisional Indonesia. Elemen-elemen yang terdapat di dalam rumah merupakan metafora elemen yang umum terdapat pada rancangan rumah tradisional di Indonesia..."(transformasi rancangan hunian-metafora rumah tradisional indonesia)

"...Sebagai upaya untuk memberikan penanda terhadap isu lokalitas, keberadaan ornamen dan relief yang mewakili budaya bangsa dirancang terintegrasi dengan keseluruhan desain rumah. Motif-motif berlubang yang sudah dikenal sejak nenek moyang kita mulai mendirikan shelter ditransformasikan ke dalam lubang-lubang fragmented sehingga efek bayangan yang timbul di dalam rumah menjadi dinamis..."(lattice ornamen sebagai representasi identitas budaya)

Saturday, August 9, 2008

LENG I LUNG...nangningnung:D

This afternoon i came to cemeti art house to see eko prawoto's exhibition titled LENG I LUNG, held from 7 August --7 September. Oh WOW! I was very very excited, entered the installation, and became a child for a while, ---pertamanya mah sante2 aja, kalemmm, lama2 jingkrak2 juga, dan tentu saja bolak balik nyobain terus---. Trust me, it always be interesting to experience the dynamic space, that make us feel like we fall or fly, experience the changing of open and close, of inside and outside, of shadows and lights, even we can't catch the idea behind this installation easily.

".....And with the installation the spatial experience will change from inside to become more out side. It is an interwoven spaces in material and also in time…" (eko prawoto)


*ehehehe..just little souvenirs*

Sunday, August 3, 2008

joglo modern ?


I remember when I joined "Teknik Komunikasi Arsitektur Lanjut" lecture, we're asked to write an architectural article as a assignment. This is an article that I wrote and submitted.


Saat Kutub Modernisme and Tradisionalisme Mencair

sebuah pengantar untuk sayembara rumah joglo modern[1]

[1]

“Saya ingin rumah yang modern tapi masih keliatan Jawanya, wong saya tetep orang Jawa“. Mungkin itulah ilustrasi yang menggambarkan sebuah kerinduan akan romansia tradisionalisme dalam hiruk pikuk modernisme yang muncul ketika seorang kepala keluarga menginginkan rumahnya terbangun di atas lahan yang terletak di daerah suburban kota Yogyakarta. Ia mendambakan sentuhan tradisonalisme mengalir dalam rumah impiannya, namun sekaligus dapat mengakomodasikan kebutuhannya terhadap perkembangan jaman. Calon pemilik rumah ini hanyalah segelintir dari masyarakat Indonesia yang konon sebagai orang Timur selalu menginginkan upaya memadukan dua kutub yang berlawanan dan memanunggalkan segala hal menjadi senyawa yang tuntas.[2]

[2]

Sebuah karya arsitektur akan senantiasa dilihat sebagai pertanda untuk jamannya, mencerminkan kesinambungan antara masa lampau, masa kini, dan masa yang akan datang. Sayangnya dalam mewujudkan persilangan dua langgam arsitektur yang berbeda yaitu tradisional dan modern pada dewasa ini, seringkali terjadi ketimpangan dimana keanggunan arsitektur tradisional hanya diteropong dari satu sisi yang menyangkut wujud, rupa, ragam atau form. Sedangkan sisi lain yang melandasi penciptaan bentuk fisik, falsafah, tata nilai, ide, makna, dan isi sebagai satu kesatuan content, seringkali lepas dari pengamatan. Padahal, pada hakikatnya bentuk yang kasat mata dan isi yang maya adalah ibarat badan dan jiwa yang saling melengkapi, tidak dapat terpisahkan satu sama lain dalam kehidupannya.[3]

[3]
Rancangan rumah Joglo Modern dimulai dengan ide mengenai langgam arsitektur yang memiliki tempatnya masing – masing, bukan merupakan bagian terpisah namun bersinergi dengan harmonis dalam suatu wadah. Perancangan didasarkan pada usaha mengembalikan tradisionalisme dalam bentuk konsepsi content bukan terbatas pada form-nya. Spirit arsitektur tradisional yang “jujur” dan “kesempurnaan” yang diagungkan oleh arsitektur modern diwadahi dengan dengan membiarkan cahaya dan material untuk menunjukkan ciri (fisik) masing – masing langgam arsitektur. Penggunaan tapak yang seminimal mungkin dan pengangkatan massa sehingga melayang, merupakan upaya untuk menjawab terbatasnya lahan hijau di jaman modernitas sekaligus upaya untuk menyediakan playground yang nyaman bagi sang anak. Tatakrama menempatkan diri yang merupakan ciri khas rumah tradisional Jawa tetap dijadikan satu issue yang penting dalam penentuan orientasi utara – selatan terhadap bangunan

Arsitektur tradisonal Jawa merupakan arsitektur halaman. Sistem pagar yang digunakan merupakan sistem yang melingkupi sekelompok unit bangunan beserta halamannya sehingga menjadi satu kesatuan rumah tradional yang utuh. Kenyataan yang terjadi sekarang adalah sistem pagar mulai ditinggalkan dalam perancangan rumah Joglo yang menjadikan bagian – bagian rumah teralienisasi. Oleh karena itu rancangan rumah Joglo Modern ini mecoba mengembalikan konsep sistem pagar yang terlupakan dengan cara penggunaan sistem pagar dengan bentuk dan material yang lebih kontemporer. Pagar juga dianalogikan dengan wall yang memberikan efek ada dan tiada terhadap joglo.

Konsep jujur yang melekat erat dengan rumah tradisional Jawa juga ditawarkan kembali oleh rumah Joglo Modern dimana ruang luar dan ruang dalam saling mengimbas tanpa pembatas yang tegar. Kemudian, struktur pada rumah Joglo Modern ini diperlihatkan secara jelas, wajar, dan jujur tanpa ada usaha untuk menutupinya. Demikian pula dengan bahan bangunannya, dibiarkan menunjukkan watak aslinya secara bebas.

Keberadaan masing – masing langgam arsitektur dalam rumah Joglo Modern ini ditentukan oleh cahaya dan material. Jika tradisionalisme dikedepankan melalui penggunaan material kayu, begitu pula dengan modernisme yang tampil menonjol dengan material betonnya. Sementara kualitas cahaya yang berubah sepanjang waktu, persepsi perspektif, dan phenomenology of place memberikan kemungkinan Joglo menjadi “visible” pada waktu tertentu, dan “invisible” pada waktu yang lain.

[4]
Pada akhirnya, rancangan rumah Joglo Modern ini menawarkan upaya pencairan tegang bentang dan tarik ulur arsitektur modern dan trasidisonal dengan cara memberikan time and space tersendiri bagi kedua langgam arsitektur yang berbeda tersebut untuk bersenyawa dengan harmonis dalam suatu wadah. Dan pernyataan, “Saya punya rumah yang modern tapi masih dapat menunjukkan identitas saya sebagai orang Jawa“, adalah sesuatu yang kemudian ingin didengar sebagai tolak ukur keberhasilan perancangan.


[1] Penulis mengikuti Sayembara Joglo Modern yang diadakan Universitas Islam Indonesia tahun 2008, berkolaborasi dengan Alyas Abibawa W, mahasiwa arsitektur UGM 2006
[2] Eko Budihardjo, Percikan Masalah Arsitektur, Perumahan, Perkotaan.1987
[3] Eko Budihardjo,1987

*playground, as one of the program*

*between invisible and visible*

*everlasting image..haha:D*